Menu

Senyap, Menyibak Tragedi Kelam 1965

KUDUS  - Memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) se Dunia 10 Desember, berbagai  komunitas di Kabupaten Kudus mengisinya dengan pemutaran film The Look of Silence (Senyap) di United Cafe, Rabu malam (10/12/2014).

Pemutaran film ini, sejatinya tidak hanya dilakukan di Kudus, juga di banyak daerah lain. Di Kudus sendiri, pemutaran film ini dimotori oleh Lembaga Pengabdian Hukum (LPH) Yaphi Surakarta, Partai Rakyat Demokratik (PRD), dan aliansi Gerakan Mahasiswa Menggugat (Geram) Kudus.

Dihadiri antara lain para aktivis mahasiswa, advokat, penggiat HAM, akademisi, dan jurnalis, kegiatan ini juga diisi dengan apresiasi seni dan budaya, musik akuistik, pembacaan puisi, dan diskusi.

Tragedi 1965

The Look of Silence, film berdurasi sekitar satu setengah jam ini menyibak fakta kejahatan genosida di Sumatra Utara yang terjadi pada 1965. Terkisah, salah satu anggota keluarga yang mengetahui tentang pembunuhan Ramli (korban).

Adik korban, Adi, berusaha memecah senyap dengan mendatangi mereka yang bertanggungjawab atas kematian kakaknya, sekaligus membuka jalan rekonsiliasi. Ironis, pembunuh kakaknya, masih berkuasa hingga saat ini dan menganggap diri mereka sebagai pahlawan ideologi.

Namun Adi harus menemukan kesia-siaan atas usahanya membuka kran rekonsiliasi itu. Tak satu pun dari pembantai kakaknya merasa menyesal dan meminta maaf kepada keluarga Adi. Minus satu anak perempuan dari pembantai yang meminta maaf atas tindakan ayahnya pada 49 tahun lalu. Perempuan itu, kini telah pikun.

Kisah tentang tragedi ini diangkat dalam film dokumenter garapan sutradara Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer, yang merupakan sekuel dari film Jagal (The Act of Killing) yang diproduksi di lima Negara, yaitu Denmark, Indonesia, Norwegia, Finlandia, dan Inggris.

Namun ada Perbedaan antara The Act of Killing dan The Look of Silence. The Act of Killing mengambil perspektif pelaku pembantaian, sementara The Look of Silence mengangkat perspektif penyintas dan keluarga korban.

Mengutip salah satu artikel pada laman filmsenyap.com, film Senyap dan Jagal merupakan pengingat, bahwa kebenaran belum lagi tuntas diungkap. Keadilan belum lagi ditegakkan. Maaf belum lagi diucapkan, Korban belum direhabilitasi -apalagi mendapatkan rekompensasi atas segala yang dirampas dari mereka.

Senyap adalah gaung bagi suara-suara lirih keluarga korban, penyintas, dan mereka yang tertindas. Meski baru diputar untuk pertama kalinya dalam skala internasional, film ini berhasil memenangkan beragam penghargaan Internasional seperti Penghargaan Utama Juri pada Festival Film Venesia ke-71 di Italia.

Senyap juga meraih Mouse d'Oro Award (penghargaan kritikus online) untuk film terbaik, FIPRESCI Award (penghargaan federasi kritikus film internasional) untuk film terbaik, Fedeora Award (federasi kritikus film Eropa dan Mediterania) untuk film terbaik Eropa-Mediterania, dan Human Rights Nights Award untuk film terbaik bertema HAM, Busan Cinephile Award di Busan International Film Festival (2014), Dox Award pada CPH:DOX (2014) dan Best Documentary Denver Film Festival (2014).

Edi Wahyu Widianto, pendamping hukum korban 1965, dalam sesi diskusi mengemukakan,  dalam kehidupan bernegara, memang butuh kerukunan dan saling memaafkan. “Namun jangan sampai dilupakan, tragedi 1965 adalah pelanggaran HAM paling berat,” katanya.

Dia menuturan, di Jawa Tengah, ada 200 korban tragedi 1965 yang berani mengaku dan terbuka. “Sebagai akademisi, tentu kita tidak bisa menutup telinga dan mulut untuk membuka kembali kebenaran sejarah yang dibelokkan. Saya meyakini, kehidupan Adi setelah ini akan terancam karena keberaniannya mengungkap kejadian (fakta) yang ada,” ujar aktivis LPH Yaphi ini.

Edi menegaskan, jika upaya membuka kembali kasus 1965 masih dihalang-halangi kelompok tertentu, Indonesia nampaknya belum merdeka. ‘’Yang kita bangun adalah rekonsiliasi, supaya peristiwa 1965 dibuka dan penegakan hukum atas pelanggaran HAM. Jadi, tidak ada kaitannya soal ideologi, ini murni soal kemanusiaan,” ujarnya. (Ulum–Portal)

Perpustakaan UMK Menantangmu

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 20.5%
Warna - 18.2%
Menu - 13.6%
Tata Letak - 36.4%
Tidak Ada - 11.4%

Total votes: 44

Pengunjung

00318273
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
141
182
323
307857
17150
10380
318273

IP: 54.156.67.164
Jam Server: 2017-09-25 12:57:55

Kami memiliki 10 tamu online

Lihat Universitas Muria Kudus di peta yang lebih besar

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Agroteknologi
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum
Manajemen

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Blog Staff
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia
Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Alumni SI
Pena Kampus
KSR PMI

Scan this QR Code!
Go to top