Menu

Artikel

Fenomena Perempuan Melepas Jilbab

Oleh Balkis Nur Asyfa

Jumlah perempuan berjilbab (berhijab) di Indonesia kian meningkat. Apakah semakin meningkatnya perempuan pemakai jilbab, bisa menjadi penanda meningkatnya tingkat keberagamaan keagamaan, khususnya di kalangan perempuan?

Ini menjadi satu pertanyaan yang sangat sulit dijawab, memang. Namun yang pasti, banyak alasan mengapa perempuan mengenakan jilbab. Sebagian memutuskan berjilbab setelah melalui perjuangan panjang dan menyakini bahwa berjilbab diwajibkan Islam.

Tetapi sebagian lagi, memakai jilbab di  luar alasan teologis di atas, yakni karena dipaksa oleh aturan, terutama karena banyaknya peraturan daerah tentang keharusan berjilbab. Selain itu, ada yang karena alasan psikologis, yaitu merasa tidak nyaman karena semua orang di sekelilingnya memakai jilbab.

Namun ada pula yang mengenakan jilbab karena alasan fashion, yakni nampak lebih anggun dan modis. Barangkali, ini yang menarik. Sesorang perempuan berjilbab karena ingin tampil lebih cantik dan trendi, sebagaimana ditampilkan tidak sedikit oleh para peshohor di negeri ini.

“Jilbab” berasal dari Bahasa Arab “Jalaba” yang memiliki makna “menutup sesuatu dengan sesuatu yang lain sehingga tidak dapat dilihat”. Sebagian ulama berpendapat, jilbab itu mirip rida’ (sorban). Ada juga yang mengidentifikasi sebagai kerudung, dan qina’ (penutup muka atau kerudung lebar).
 
Muhammad Said Al-Asymawi, menyimpulkan bahwa jilbab adalah gaun longgar yang menutupi sekujur tubuh perempuan. Dalam Islam, perempuan diperintahkan mengenakan jilbab sebagai penutup aurat.
 
Fenomena Melepas Jilbab

Ada berbagai alasan atau pertimbangan seorang perempuan memakai jilbab. Sebaliknya, tidak sedikit pula alasan mengapa kemudian seorang muslimah (perempuan) akhirnya memilih melepas jilbab.

Fenomena perempuan melepas jilbab ini bisa terjadi, antara lain karena sebelumnya coba-coba (iseng) berjilbab, atau merasa gerah saat mengenakannya. Tetapi harus dipahami, jika seseorang (perempuan) secara sadar berjilbab kemudian menanggalnya, mereka tidak harus menolak jilbab. Sebab, menurut Elizabeth Raleigh (2004) seseorang bisa memperoleh kesenangan dari berjilbab tanpa mengurangi maknanya sebagai sarana beragama.

James W. Flower dengan teorinya Faith Development Theory (teori perkembangan kepercayaan eksistensial/Iman) mengatakan, krisis akibat ketidakcocokan dalam interaksi kognitif-afektif antara individu dan lingkungan, akan menjadikan pribadi beralih dari tahap (perkembangan) struktural lama menuju tahap berikutnya yang cocok dengan tuntutan baru.

Terkait jilbab dan pilihan seseorang untuk mengenakan atau menanggalkannyanya, bisa dijelaskan bahwa berjilbab itu bisa lebih menjaga diri si pemakainya. Jilbab merupakan bagian dari fashion, yang bisa dimaknai sebagai cara, mode, atau style (gaya) berpakaian.

Dalam pandangan psychology of fashion, pakaian yang dikenakan seseorang bisa menunjukkan identitas dari pemakainya. Dengan kata lain, pakaian (baju) bisa menjadi jembatan penghubung (interface) visual non-verbal diri manusia yang personal dan lingkungan kehidupan sosio-kulturalnya.

Di bawah ini, ada sebuah kisah pergolakan seorang perempuan melepas jilbab. Adalah Lanni, perempuan yang lahir di Jawa Timur sekitar 40 tahun lalu, ini mulai mengenakan jilbab menjelang usia 37 tahun.

Pilihan mengenakan jilbab didahului oleh tekanan-tekanan sosio-psikis yang dialami dan hampir membuatnya putus asa. Lanni lantas “lari” ke jilbab dan agama dengan maksud agar hatinya bisa lebih tenang, atas anjuran laki-laki yang ia cintai saat itu.

Anjuran laki-laki yang dulunya dia cintai, meskipun cuma sekali, memberi pengaruh besar dalam dirinya. Namun keadaan berbalik ketika hubungannya dengan pacarnya retak dan akhirnya kandas. Jilbab, baginya, menjadi tak penting lagi, sehingga ia mencoba melepasnya.

Sejak awal, Lanni sendiri  memang merasa lebih nyaman tidak berjilbab. Ia merasa menjadi dirinya sendiri, karena ia berjilbab pun karena motivasi ‘’dari luar’’. Dan lagi, pengalaman yang dialami, keputusan memakai dan melepas jilbab bukanlah pilihan sulit. Yang membuat sulit adalah ketika menghadapi komentar orang.

Uraian singkat di atas menegaskan, bahwa semestinya seseorang harus yakin dengan pilihannya, jangan setengah-setengah, termasuk dalam hal mengenakan jilbab. Pakailah jilbab sesuai syariat. Percuma berjilbab jika lekuk tubuh terlihat jelas. Jaga ucapan, sikap, dan perilaku, terutama di tempat umum.

Dan bagi mereka yang ingin melepas jilbab, harus siap mental tiga kali lipat dibanding saat memutuskan untuk mengenakannya pertama kali. Pandangan miring bisa bermunculan, karena masyarakat kita belum semuanya mampu berpikir demokratis, apalagi menyangkut kebebasan berpikir dan berekspresi. Sikap sinis dan apriori harus diterima, sebagai konsekuensi melepas jilbab. (*)

 


Balkis Nur Asyfa,
Mahasiswa semester I Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus dan alumni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Kudus

Perpustakaan UMK Menantangmu

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 20.5%
Warna - 18.2%
Menu - 13.6%
Tata Letak - 36.4%
Tidak Ada - 11.4%

Total votes: 44

Pengunjung

00318339
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
207
182
389
307857
17216
10380
318339

IP: 54.156.67.164
Jam Server: 2017-09-25 13:11:08

Kami memiliki 73 tamu online

Lihat Universitas Muria Kudus di peta yang lebih besar

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Agroteknologi
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum
Manajemen

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Blog Staff
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia
Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Alumni SI
Pena Kampus
KSR PMI

Scan this QR Code!
Go to top