Menu

Artikel

Mengabdi pada Masyarakat, Mengabdi pada Negeri

Oleh M. Widjanarko

Bagi staf pengajar di perguruan tinggi (dosen), pengabdian masyarakat merupakan ruh dari Tri Dharma yang mesti dilaksanakan. Dengan demikian, hal itu berlaku pula bagi para dosen di Universitas Muria Kudus (UMK).

Kewajiban melaksanakan pengabdian kepada masyarakat bagi akademisi perguruan tinggi itu, tertuang dalam Pasal 20 ayat 2 Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bahwa ‘’ Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat’’.

Ini dipertegas lagi dengan Pasal 45 UU Sisdiknas, yang menjelaskan, penelitian di perguruan tinggi diarahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.

Selain itu, pengabdian masyarakat bagi dosen merupakan manifestasi aktivitas civitas akademika dalam mengamalkan dan membudayakan ilmu pengetahuan serta teknologi untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

UU Sisdiknas ini secara tegas mengemukakan, bahwa tugas dosen tidak semata-mata mengajar dan melakukan penelitian, tetapi juga memiliki kewajiban mengabdi pada masyarakat.

Pengabdian kepada masyarakat ini, dalam bahasa yang sederhana, bisa dipandang sebagai ‘uji nyali’ para dosen untuk melakukan perubahan. Pertanyaannya kemudian, bagaimana mereka bisa melakukan perubahan jika terjebak dengan rutinitas mengajar dan melakukan penelitian, yang, hasil temuannya belum tentu dibutuhkan masyarakat?

Menilik dari paparan singkat di atas, maka seyogyanya para pimpinan universitas UMK senantiasa mendorong para dosen, dengan latar belakang keilmuan apapun,  untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Pengabdian kepada masyarakat ini, paling tidak bisa diarahkan pada empat tujuan utama. Pertama; inovasi teknologi. Dorong para dosen melakukan berbagai inovasi yang bisa mendorong pembangunan ekonomi Indonesia, dengan melakukan komersialisasi hasil penelitian.

Kedua; solusi konkret. Selain berbagai inovasi, dosen, dalam pengabdiannya kepada masyarakat, sedapat mungkin menawarkan solusi berdasarkan kajian akademik atas persoalan, tantangan, dan kebutuhan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ketiga; lakukan program preferential option for the poor (mengentaskan masyarakat tersisih) di semua strata. Baik masyarakat itu tersisih secara ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Keempat; lakukan alih teknologi, ilmu, dan seni kepada masyarakat. ini dilakukan untuk pengembangan martabat manusia dan kelestarian sumber daya alam.

Intelektual Organik

Agar tujuan dan standar pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi tercapai, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Ditlitabmas) perguruan tinggi mendorong dan memfasilitasi para dosen melaksanakan kegiatan sosial ini.

Tujuannya, tak lain untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan tinggi, daya saing bangsa, dan kesejahteraan rakyat secara terprogram dan berkelanjutan. (Dikti, 2013).

Berpijak dari sini, maka sebenarnya tidak ada alasan bagi dosen, untuk tidak melakukan pengabdian masyarakat. Terlebih dalam kegiatan ini, dosen memiliki kesempatan yang sangat luas ‘’membumikan’’ teori yang ada di ranah keilmuan di tengah kehidupan nyata masyarakat yang dihadapi.

Dengan kata lain, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi obyek atau ‘’kelinci’’ percobaan, melainkan berada pada proses egaliter akan penguasaan keilmuan. Ini, sesuai dengan tesis yang dikemukakan Antonio Gramsci, bahwa intelektual itu terbagi dalam dua perspektif, yakni intelektual tradisional dan intelektual organik.

Intelektual tradisional dalam bahasa sederhana bisa dipahami sebagai akademisi yang ‘’lahir’’ dari kampus. Sedang intelektual organik adalah bagian tak terpisahkan dari berbagai kelas.

Karena itu, kelompok-kelompok seperti petani, buruh, dan nelayan bisa menjadi intelektual organik. Tak menutup kemungkinan, kelompok intelektual tradisional masuk dalam dalam klasifikasi ini.

Dalam terminologi ini, cendekiawan bukanlah kelas sosial tersendiri, tetapi memiliki keterkaitan di mana kegiatan yang diberi kategori intelektual mendapat tempat dalam hubungan sosial pada umumnya (Gramsci, 1987). Kecendekiawanan berlaku bagi siapa saja yang melakukan perjuangan menegakkan kebenaran guna mewujudkan keadilan, kebebasan, dan demokrasi.

Ali Syariati (1982) berpendapat, cendekiawan harus melakukan kerja protes terhadap segala macam bentuk penyimpangan yang ada dalam struktur masyarakat. karena cendekiawan sejati adalah mereka yang berani melakukan protes atas kecenderungan destruktif yang terjadi di tengah masyarakat, tidak sekadar berdiam diri di atas menara gading atau memposisikan diri sebagai resi. Tugas kaum intelektual tak semata menganyam kata, menelurkan gagasan, tetapi juga harus berupaya mengubah realitas yang timpang, mengubah kata-kata menjadi kenyataan (Cahyono, 2004).

Akhirnya, pengabdian masyarakat menjadikan salah satu intrumen Tri Dharma perguruan tinggi sekaligus aktivitas penting yang perlu dilakukan dosen, yang menyandang predikat sebagai kaum intelektual. Bagaimana bisa seorang dosen mendiskusikan pengabdian masyarakat di hadapan mahasiswa jika dia sendiri tak pernah melakukan aktivitas sosial itu secara langsung? (*)



M. Widjanarko,
Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi UMK, direktur Muria Research Center (MRC) Indonesia dan kandidat Doktor Psikologi Universitas Airlangga (Unair).

Perpustakaan UMK Menantangmu

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Desain - 20.5%
Warna - 18.2%
Menu - 13.6%
Tata Letak - 36.4%
Tidak Ada - 11.4%

Total votes: 44

Pengunjung

00315459
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
238
2514
7602
305608
14336
10380
315459

IP: 54.162.218.214
Jam Server: 2017-09-22 09:46:04

Kami memiliki 57 tamu online

Lihat Universitas Muria Kudus di peta yang lebih besar

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Agroteknologi
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum
Manajemen

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Blog Staff
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia
Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Alumni SI
Pena Kampus
KSR PMI

Scan this QR Code!
Go to top